Beranda | Artikel
Akhirat Itu Kekal
Selasa, 26 April 2016

AKHIRAT ITU KEKAL

Pertanyaan.
Ustadz, saya membaca buku berjudul Ternyata Akhirat Tidak Kekal, karangan Agus Mustofa. Dalil penulis mengenai hal tersebut, bahwa hanya Allah l saja yang kekal, sedangkan selainNya tidak memiliki sifat kekal, termasuk (alam) akhirat. Dicantumkan juga  surat  Hud/11 ayat 106-108. Adapun  banyaknya nash al Qur`an yang menyebutkan akhirat kekal, ditafsirkan oleh penulis karena lamanya masa akhirat akan binasa, yang menurut sains modern sekitar 18 milyar tahun lagi. Apakah pernyataan tersebut benar? Dan bagaimana pandangan manhaj Salaf terhadap hal itu? Mohon penjelasan dan terima kasih.

Jawaban.
Akhirat adalah sesuatu yang ghaib yang tidak diketahui, kecuali dengan berita wahyu baik dalam al Qur`an maupun Sunnah Rasulullah. Sehingga, seseorang tidak menetapkan suatu ketentuan, kecuali berdasarkan kepada keduanya. Namun perlu diingat dalam memahami keduanya dengan benar, harus merujuk kembali kepada para murid Rasulullah yang langsung menerima keterangan dan penjelasan beliau n dan juga melihat kepada ketentuan dan pemakaian bahasa Arab sebab Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.

Demikian juga dengan pertanyaan ketidak kekalan akhirat, perlu ditanyakan, adakah di kalangan para sahabat yang menyatakan demikian? Tidak cukup hanya dengan menyebut dalil al Qur`an, apalagi berdasarkan terjemahannya -bahasa Indonesia- kemudian menafsirkan seluruh ayat-ayat lain yang dianggap tidak sesuai dengan hipotesa yang dibuatnya sendiri.

Pendapat yang mengatakan akhirat, surga dan neraka tidak kekal, bukanlah pendapat baru. Pendapat ini hanya membangkitkan kembali pemikiran sesat al Jahmiyah, yang dipelopori Jahm bin Shafwan. Begitu juga dengan pembesar Mu’tazilah, yaitu Abu al Hudzail al ‘Allaf.

Alhamdulillah, hal ini sudah dijelaskan oleh para ulama terdahulu, seperti Imam ath Thahawi (wafat 321H), Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab, adz Dzahabi, Ibnu Abil ‘Izzi al Hanafi (wafat 792H), dan lainnya.

Imam Abu Ja’far ath Thahawi menyatakan : “Surga dan neraka adalah makhluk ciptaan Allah, tidak punah selama-lamanya”.[1]

Ketika menjelaskan perkataan Abu Ja’far ath Thahawi di atas, Imam Ibnu Abil ‘Izzi al Hanafi berkata : “Orang yang berpendapat surga dan neraka tidak kekal adalah Jahm bin Shafwan, pemimpin al Jahmiyah. Pendapatnya ini, tidak ada seorang pun yang mendahului, baik dari kalangan sahabat ataupun tabi’in. Tidak juga dari para imam muslimin dan Ahlu Sunnah. Seluruh Ahlu Sunnah telah mengingkarinya, dan memvonis kafir kepada Jahm disebabkan pendapatnya ini”.[2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :
Pendapat yang menyatakan surga dan neraka tidak kekal, maka saya tidak pernah mengetahui ada seorang pun yang menukilnya dari salah seorang salafush-shalih, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in. Mereka hanya menceritakan, pendapat ini dari Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya (yaitu al Jahmiyah). Pendapat ini termasuk yang diingkari oleh para ulama besar Islam. Bahkan, menjadi argumen mereka untuk memvonis kafir terhadap al Jahmiyah, sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Abdullah bin Ahmad bin Hambal (dalam as Sunnah), al Atsram (dalam as Sunnah), dan Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il al Bukhari (dalam Halqu Af’al al ‘Ibad) serta lainnya dari Kharijah bin Mush’ab, bahwa ia berkata : Al Jahmiyah menjadi kafir berdasarkan beberapa ayat dari al Qur`an. Di antaranya empat ayat.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا

[buahnya tak henti-henti (kekal), sedang naungannya (demikian pula) -al Ra’ad/13 ayat 35-].

Mereka menyatakan, tidak kekal.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ هَٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ

[Sesungguhnya ini adalah benar-benar rizki dari Kami yang tiada habis-habisnya – Shad/38 ayat 54-].

Mereka menyatakan, akan habis.

Firman Allah  Subhanahu wa Ta’ala:

لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ

[Yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya – Waqi’ah/56 ayat 33-].

Barangsiapa yang mengatakan “akan berhenti,” maka ia telah kafir.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

[Sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. -Hud/11 ayat 108-].

Maknanya, tidak putus-putus. Barangsiapa yang menyatakan itu akan terputus, maka ia telah kafir.[3]

Adapun untuk membantah buku yang ditanyakan tersebut, kami perlu mengkaji terlebih dahulu buku tersebut, sehingga kami dapat mengerti dalil dan sisi pengambilan hukum yang terdapat pada buku Ternyata Akhirat Tidak Kekal tersebut. Namun yang jelas, pemahaman seperti ini dipelopori sekte sesat al Jahmiyah dan Mu’tazilah, yang sekarang ini banyak diusung kembali ke dunia Islam oleh para musuh Islam, baik dengan memanfaatkan kaum Muslimin sendiri, ataupun secara langsung melalui pena dan lisan mereka. Oleh karena itu, kita semua hendaklah sadar, betapa berbahaya belajar Islam dari para musuh Islam, seperti orientalis dan Islamologi dari Barat.

Demikian jawaban singkat kami, mudah-mudahan bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 7-8/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
________
Footnote
[1] Syarah Aqidatuth Thahawiyah, halaman 614.
[2] Ibid, halaman 261.
[3] Dinukil dari ar Radd ‘ala man Qaala bi Fanaa-il Jannati wan Naar, Ibnu Taimiyah, tahqiq Dr. Muhammad bin ‘Abdilah as Samhari, Cet. Pertama, Tahun 1415H, halaman 43-44.


Artikel asli: https://almanhaj.or.id/4737-akhirat-itu-kekal.html